Untuk Anakku (Kelak)

Anakku yang manis,

Saat cerita ini tertulis, kamu belum di sini, Nak, masih di dekapan Tuhan dan di harapan-harapan Ibu dan Ayah yang masih harus tinggal berjauhan.

Sampai saat ini, Ibu masih harus sekolah di Jakarta. Sementara, Ayah harus menunaikan tugasnya di pulau tempat Gunung Gamalama berada. Kalau Ibu mau pulang ke Ayah atau sebaliknya, harus naik pesawat dulu selama empat jam perjalanan tanpa singgah. Jauh, ya? Lebih jauh daripada kalau Ibu pulang dari Jakarta ke rumah Eyang di Jawa dan di Sulawesi.

Karena jarak yang jauh itulah, Nak, Ibu dan Ayah tak bisa sering-sering bertemu. Bisa dua bulan sekali bertemu itu sudah bersyukur sekali, meskipun untuk melalui dua bulan itu buat Ibu tak gampang.

Jauh dari Ayah itu tidak enak, Nak. Di sini, Ibu serba dekat dengan makanan lezat dan segala benda yang menandakan peradaban modern. Tapi seperti kata Tante Andien, “… semua itu tak akan berarti selama kujauh dari dirimu…” Bukan penyedap indera yang Ibu cari, melainkan ia yang mampu membuat lahir dan batin tergenapi.

Adalah ketangguhan, Nak, yang selalu berusaha Ayah dengungkan pada Ibu. Bahwa jarak dan ketidakjumpaan selayaknya menjadi bagian perjalanan yang mampu menguatkan. Bahwa kita harus belajar berkelindan dengan rindu tanpa jemu apalagi menggerutu. Bahwa doa-doa kita tidak akan menguap sia-sia, tidak pula menjadi lemah hanya karena ada lautan luas yang membuat kita jauh terpisah.

Dalam rindu luar biasa seperti detik ini, sambil bersusah-payah menghimpun konsentrasi untuk sekolah, Ibu juga menjaga keyakinan bahwa segera sampai waktunya ketika Ayah dan Ibu tak lagi berjauhan. Dan harapan Ibu dan Ayah masih sama, Nak: semoga di satu waktu yang tepat kamu akan hadir pula melengkapi keluarga kita. Semoga.

Bintaro, suatu sore di Hari Kartini.

Sawang-sinawang

Beberapa hari yang lalu, saya menerima undangan pernikahan dari seorang kawan SMA lewat Facebook. Karena merasa sudah lama tak tahu kabarnya, akhirnya saya buka-buka halaman Facebook-nya. Dan betapa takjub, saya baru tahu bahwa dia baru saja pulang dari Italia setelah menyelesaikan studi S2 berbekal beasiswa Erasmus Mundus di sana.

Saat SMA dulu, dari kelas XI ke kelas XII tidak ada pemisahan kelas lagi. Jadi, selama dua tahun saya punya teman-teman sekelas yang sama. Kalau tidak salah, kami dulu ada 40 orang di IPA-7. Karena sekelas selama dua tahun, sudah bisa dibilang bahwa kami sudah cukup tahu sama tahu tabiat masing-masing. Saya termasuk murid yang penurut, tertib, dan rajin untuk urusan sekolah. Sementara, sebagian besar murid laki-laki adalah bocah-bocah yang luar biasa berisik, tidak rapi, kurang disiplin, dan sama sekali tidak rajin. Saya keberatan menyebut mereka rajin karena hampir tiap ada PR mereka selalu pinjam buku saya untuk disalin seadanya.

Nah, teman saya yang baru selesai S2 di Italia itu termasuk golongan yang luar biasa berisik dan lain-lain itu. Kalau mengingat-ingat lagi masa SMA, jujur saya berada di antara rasa tidak percaya sekaligus salut padanya. Dalam sekian tahun–delapan tahun–sejak kami lulus, ia sudah jadi orang yang sama sekali berbeda. Dulu ia terkesan tidak serius sekolah, seragamnya sering tidak sedap dipandang, tapi kemarin saya lihat ia begitu rapi di sidang tesisnya.

Satu hal yang sangat penting: teman saya itu bukan satu-satunya orang yang sukses bikin saya takjub dan bangga. Bagaimana tidak, dari 40 orang yang dulu sekelas, hampir semuanya telah sukses dan beberapa orang sedang belajar di luar Indonesia. Ada satu orang masih studi di Jerman, satu di Korea Selatan, satu di Jepang. Yang di Indonesia pun banyak yang sukses. Ada yang jadi dokter dan lain-lain.

Itu baru yang teman-teman sekelas. Teman-teman baik yang beda kelas pun sudah mencicip kesuksesan masing-masing. Saya punya sekitar tujuh orang kawan akrab yang tak sekelas saat SMA dulu. Dari delapan orang, tiga orang sudah sejak dua tahun lalu bergelar master dan kini sudah punya karier dan hidup mapan. Satu orang sedang bersiap berangkat sekolah S2 ke Eropa dengan beasiswa LPDP. Tiga orang lain sudah sarjana, sudah menikah dan berkarier bagus di swasta dan BUMN. Satu orang lagi adalah saya, yang sampai sekarang masih berkutat menyusun skripsi agar bisa selesai sarjana tahun ini.

Kalau dibanding teman-teman SMA, saya telah tertinggal jauh untuk urusan sekolah. Kadang saya iri, mereka yang dulu hobi menyalin PR saya kini justru melesat jauh di depan. Mereka yang dulu segan pada saya, kini telah punya gelar panjang hasil sekolah berbekal beasiswa yang diincar banyak orang. Hasil sekolah itu akan jadi jaminan bagus untuk bekal kesuksesannya.

Pepatah bilang, rumput tetangga memang tampak lebih hijau. Hidup ini adalah tentang saling pandang. Saya akan iri melihat mereka, dan mereka juga punya alasan untuk iri kepada saya.

Seorang teman SMA yang perjalanan studi terbilang cepat–sudah S2 sejak dua tahun lalu–pernah agak mengomel ketika saya singgung soal kehebatannya. Ketika saya bilang, “Wah, hebat euy, udah M.Sc aja. Aku nggak ada apa-apanya nih..,” ia membalas dengan sedikit mengeluh, “Ah, kamu. Kamu lho udah bisa punya penghasilan sendiri dari lama. Kamu udah ada kerjaan mapan. Aku? Ijazah sih S2, tapi masih serba andalkan orang tua.”

Istri almarhum Om Bambang, paman saya, beberapa hari lalu menelepon dari Situbondo, kabupaten kecil di Jatim tempatnya tinggal sekarang. Ia mengabarkan bahwa sulungnya, Yola, sebentar lagi akan ujian dan tahun ini akan masuk SMP. Namun, si ibu ini bingung memikirkan rumah kos untuk anaknya karena si Yola ini tidak mau sekolah di SMP dekat rumah. “Yola ndak mau masuk SMP dekat rumah, maunya di kota. Tapi kalau di kota berarti harus ngekos karena jauh sekali dari rumah,” katanya.

Di ujung-ujung pembicaraan, istri paman saya itu mengungkapkan alasan anaknya yang ngeyel ingin sekolah di SMP unggulan di tengah kota. “Katanya pingin sekolah di SMP yang bagus. Katanya pingin bisa sukses kayak Mbak Tyas…”

Hidup itu sawang-sinawang. Semoga waktu tidak habis hanya untuk memandang. Setiap kita juga dituntut mampu untuk memberi teladan.

Hati-hati Pakai Kamar Mandi Umum

Kemarin lusa, saya ditelepon suami. Namun, tak seperti obrolan telepon sehari-hari biasanya, kali ini suami punya cerita yang cukup serius. Ia cerita bahwa siang tadi (Jumat, 3/4), teman kami–perempuan–dilecehkan di tempat umum. Berikut ceritanya saya salin dari twit saya. Cerita ini sekaligus menjadi imbauan untuk teman-teman lainnya agar berhati-hati saat pakai kamar mandi umum di mana pun.

1. Teman saya–perempuan–tadi pergi ke sebuah pemandian bersama suami dan anak-anaknya. Setelah selesai renang, ia pergi ke kamar mandi umum..

2. ..untuk mandi. Sebelum masuk kamar mandi, ia perhatikan sekeliling dan tidak ada orang lain. Merasa aman, dia masuk ke kamar mandi.

3. Ketika sedang mandi, ia merasa perasaannya tak enak. Benar saja, saat ia mendongak, ia lihat jelas ada laki-laki yang sedang mengintipnya!

4. Spontan, teman saya menjerit histeris karena melihat ada laki-laki di atas. Ia langsung menutup badannya dengan handuk dan lari keluar..

5. Di luar, berbalut handuk, teman saya sesenggukan dan jerit-jerit. Mungkin saking traumanya, ia lupa pakai hijabnya.

6. Saat teman saya menangis hebat di luar, ada dua laki-laki keluar bersamaan dari kamar mandi yang sama di sebelah kamar mandi teman saya.

7. Teman saya langsung menjerit dan menunjuk laki-laki itu, “Kamu yang intip saya tadi!”. Ia yakin itu pelakunya karena ia ingat betul matanya.

8. Saat suasana makin ramai, tiba-tiba ada satu polisi datang. Setelah mendapat cerita dari pengunjung lain, polisi itu menanyai si laki-laki.

9. Polisi itu bilang ke teman saya, “Apa bukti Ibu kalau dia pelakunya? Ibu cuma sendiri, tanpa saksi. Ini yang berdua sama-sama tidak tahu.”

10. “Ibu mau dituntut balik sama dua orang ini karena melakukan fitnah? Ibu kan tidak punya saksi,” lanjut si polisi.

11. Akhirnya owner pemandian datang, ibu-ibu, berhijab juga, “Dua laki-laki ini karyawan saya, sudah lama kerja di sini, tak pernah bermasalah!”

12. Laki-laki yang tertuduh juga mengancam teman saya, “Ibu mau hidup Ibu tidak tenang karena sudah berani memfitnah saya?”

13. Teman saya tertekan. Suaminya tak bisa berbuat banyak, dugaan saya sih karena dia mencemaskan anaknya yang masih kecil dan ikut menyaksikan.

14. Oh ya, owner-nya bilang dua karyawannya itu “Memang sering kok mereka mandi bersama.” Dan polisi cuma merespon “Oh begitu ya, Bu..”

15. Polisi ngotot bahwa teman saya tak punya saksi sementara si laki-laki punya. Si polisi juga ngotot tak mau proses sidik jari di kamar mandi.

16. Karena mepet jam jumatan, kasus itu ditutup setelah teman saya bilang, “Ibu owner, semoga pemandian itu ramai terus. Saya doakan, Bu..”

17. Saya tak di lokasi, cuma dapat cerita dari suami yang ikut berdebat dengan si polisi. Tapi meski cuma dengar cerita, nyesek rasanya😦

18. Kabarnya si teman sudah merasa enakan. Tapi dia benar-benar terpukul dengan kejadian siang tadi. Ndak bayangin kalau saya di posisinya😦

19. Kata suami, “Sebenarnya pas keluar kamar mandi jerit-jerit itu dia lihat dan teriaki nama saya, tapi saya ndak dengar karena ramai.” :((

20. Oh ya, dua karyawan tadi sempat dipaksa untuk disumpah di bawah Qur’an. Mereka mau dan disumpah. “Tapi mereka gemetaran,” kata suami.

21. Lokasi kejadian tadi pemandian tepi pantai di Ternate, Malut. Sayangnya saya lupa nama pemandiannya, informannya sudah pada tidur -_-